05 April 2012

Kisah Rasulullah SAW Dan Yahudi Buta

 Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah ada seorang pengemis Yahudi Buta, dari hari ke hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi Buta itu. Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi Buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha. Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”. Setelah mendengar cerita Abubakar r.a. pengemis itu terkejut lalu menangis sambil berkata, “benarkah demikian? selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia malah mendatangiku dengan membawakan makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” isaknya. Pengemis Yahudi Buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a. Sumber Text: syokislam.blogspot.com

Kisah Rasulullah dan Buah Limau

"Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya.Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan "Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab tu saya habiskan semuanya." Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan datangnya dari orang bukan Islam. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa kerana sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya ditewaskan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW. Wallahualam... 

Sumber : syokislam.blogspot.com

04 April 2012

Tentang Dusta/Bohong

(Oleh: Ustadz Abu Abdillah al-Atsari)
Definisi Bohong
Raghib al-Ashfahani berkata:
“Asal jujur dan bohong adalah dalam perkataan, baik itu pada perkara yang telah lampau, akan datang, atau berupa sebuah janji. Dinamakan bohong karena ucapannya menyelisihi apa yang ada di dalam hatinya.”
(Fathul Bari, 10/623).
Berkata Imam Nawawi:
“Ketahuilah, madzhab Ahlus Sunnah berkata bahwa bohong adalah mengabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataannya, sama saja engkau sengaja atau tidak sengaja. Orang yang berbohong dengan tidak sengaja, maka tidak ada dosanya, akan tetapi ia akan berdosa apabila melakukannya dengan sengaja.”
(Al-Adzkar, hal. 326, lihat pula Al-Adab asy-Syar’iyah, 1/53)
Hukum Berbohong
Ketahuilah, dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah yang menegaskan haramnya berbohong secara umum sangat banyak. Bohong termasuk dosa yang jelek dan aib yang tercela. Umat ini telah sepakat akan keharaman berbohong, ditambah lagi dengan adanya dalil-dalil yang sangat banyak dalam masalah ini. (Al-Adzkar, hal. 324).
Celaan bagi orang yang berbohong
1. Tidak mengindahkan Perintah Allah
Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak ada ilmunya. Orang yang berbohong berarti telah memperturutkan hawa nafsu untuk mengikuti apa yang tidak dia ketahui, dan hal ini terlarang dengan tegas sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36)
Imam asy-Syinqithi berkata:
“Allah melarang dalam ayat yang mulia ini agar manusia tidak mengikuti apa yang dia tidak mempunyai pengetahuan di dalamnya. Termasuk di dalam hal ini adalah perkataan orang yang berkata: ‘Saya telah melihat’, padahal dia belum melihatnya. ‘Saya telah mendengar’, padahal dia belum mendengarnya. ‘Aku tahu’, padahal dia tidak mengetahuinya. Demikian pula orang yang berkata tanpa ilmu dan orang yang mengerjakan amalan tanpa ilmu, tercakup pula dalam ayat ini.” (Adhwa’ul Bayan, 3/145)
2. Perintah berbuat jujur, larangan akan kebalikannya
Apabila Allah memerintahkan sesuatu, maka mengandung konsekuensi larangan akan kebalikannya. Perintah berbuat jujur, berarti larangan berbohong. Perhatikanlah fiman Allah berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata:
“Firman-Nya ‘Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar’, yaitu di dalam perkataan, perbuatan, dan dalam keadaan mereka. Ucapan yang terlontar dari mereka benar dan jujur, tiadalah perbuatan dan keadaan mereka kecuali benar, jauh dari rasa malas, selamat dari maksud jahat, berupaya ikhlas dan niat yang shalih. Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 312).
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda memuji sifat jujur dan mencela sifat bohong. Cermatilah hadits berikut ini:
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari no. 6094, Muslim no. 2607)
3. Petaka lisan
Kata orang, lisan adalah daging tak bertulang, apabila manusia tidak menjaga lisannya, maka kebinasaanlah yang ia dapat. Ingatlah selalu, tidak ada satu ucapan pun yang keluar dari mulut kita, kecuali ada malaikat yang mencatat. Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)
4. Tanda orang munafik
Berbohong adalah kebiasaan orang munafik. Orang munafik akan selalu menampakkan sesuatu yang menyelisihi apa yang ada dalam benaknya, di antaranya adalah dengan berbohong. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Tanda orang munafik ada tiga: Apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya dia khianat.” (HR. Bukhari no. 6095, Muslim no. 59).
5. Kebinasaan bagi yang berbohong
Berbohong tidaklah dibenarkan, baik sungguh-sungguh ataupun sekedar main-main saja. Sering kita lihat, orang kalau sudah kumpul dengan temannya akan berupaya membuat senang dan tertawa teman-temannya walaupun harus berbohong! Tentunya hal ini tidaklah dibenarkan juga, mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
“Celakalah orang yang berbohong agar orang lain tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud no. 4990, Tirmidzi no. 2315, Darimi no. 2705, Ahmad 5/7. Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Misykah no. 4834).
Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bohong tidaklah dibenarkan, baik sungguh-sungguh maupun sekedar main-main.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/363).
6. Adzab yang pedih
Inipun termasuk celaan dan ancaman bagi orang yang berbohong, renungilah kisah dalam hadits berikut ini, bahwa berbohong bukan sekedar dosa yang ringan!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang laki-laki, kemudian keduanya membawaku ke sebuah tempat yang suci. Di tempat itu aku melihat dua orang yang sedang duduk dan ada dua orang yang sedang berdiri, di tangan mereka ada sebatang besi. Besi itu ditusukkan ke tulang rahangnya sampai tembus tengkuknya. Kemudian ditusukkan besi itu pada tulang rahangnya yang lain semisal itu juga, hingga penuh dengan besi…
Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Kalian telah mengajakku berkeliling, sekarang kabarkan kepadaku peristiwa demi peristiwa yang telah aku lihat.” Keduanya berkata: “Adapun orang yang engkau lihat menusuk rahangnya dengan besi, dia adalah seorang pendusta, berkata bohong hingga dosanya itu memenuhi penjuru langit. Apa yang engkau lihat terhadapnya akan terus diperbuat hingga hari kiamat.”
(HR. Bukhari no. 1386, Ahmad 5/14).
Kebohongan yang paling bohong
Bohong bisa dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan menceritakan mimpi yang sebenarnya dia tidak melihat mimpi itu. Takutlah wahai saudaraku, janganlah engkau terbiasa menceritakan mimpi yang engkau tidak melihatnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kedustaan yang paling dusta adalah menceritakan mimpi yang tidak ia lihat.”
(HR. Bukhari no. 7043, Ahmad 2/96).
Berdusta terhadap Allåh dan Råsul-Nya
Sesungguhnya tingkah polah orang-orang yang ingin menghancurkan agama ini sangat beragam, mulai dari orang yang menolak Sunnah dengan mencukupkan berpegang pada Al-Qur’an, atau orang-orang yang menerima sebagian Sunnah dan menolak sebagian yang lain. Yang lebih parah dari semua adalah orang-orang yang berbuat kedustaan terhadap agama yang hanif ini. Mereka berani berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini sedikit penjelasan tentang bahayanya berdusta atas nama Allah dan Rasul.
1. Berdusta terhadap Allah
Tidak diragukan lagi berdusta atas Allah merupakan dosa yang paling besar dan perbuatan yang paling jelek. Bahkan orang yang berani berdusta terhadap Allah berarti telah mengekor para pendahulu mereka dari kalangan ahli kitab. Allah berfirman:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78).
Sangat banyak ayat-ayat Allah yang mengancam orang yang berdusta terhadap-Nya. Di antaranya Allah berfirman:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al-An’aam: 144)
Imam ath-Thabari berkata:
“Maka siapakah yang lebih zhalim terhadap dirinya, jauh dari kebenaran, daripada orang yang membuat kebohongan terhadap Allah? Masuk dalam ayat ini pula adalah mengharamkan apa yang tidak diharamkan Allah, dan menghalalkan apa yang tidak dihalalkannya.” (Tafsir ath-Thabari, 8/68).
Firman Allah yang lain:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.” (Al-An’aam: 157).
Di antara bentuk berdusta atas Allah adalah menafsirkan ayat-ayat Allah tanpa ilmu, memoles ayat untuk kepentingan hawa nafsunya! Ketahuiolah wahai saudaraku seiman, generasi terbaik umat ini sangat berhati-hati untuk menafsirkan ayat tanpa ilmu.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Bumi manakah yang dapat kupijak dan langit manakah yang dapat menaungiku bila aku berbicara tentang Kitabullah tanpa ilmu?”
(Majmu’ Fatawa, 13/371).
Tabi’in yang mulia Masyruq berkata:
“Hati-hatilah kalian dalam menafsirkan Al-Qur’an, karena hal itu merupakan periwayatan tentang Allah.” (Majmu’ Fatawa, 13/374)
Syaikhul Islam mengomentari atsar-atsar di atas:
“Atsar-atsar yang shahih ini dan yang semisalnya dari para imam salaf, dibawa pada keberatan mereka untuk berbicara tentang tafsir yang mereka tidak tahu ilmunya. Adapun orang yang berbicara tafsir dengan ilmu yang ia miliki secara bahasa dan syar’i, maka tidaklah mengapa. Inilah yang wajib ditempuh oleh setiap orang, wajib baginya diam dalam perkara yang ia tidak punya ilmu tentangnya, demikian pula wajib menjelaskan bagi yang ditanya dan ia mengetahui permasalahan tersebut.” (Majmu’ Fatawa, 13/374).
Demikian pula, termasuk perusak dan penghancur agama ini adalah banyaknya orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu. Tidak sedikit orang yang berfatwa tanpa ilmu, menyitir ayat-ayat Allah lalu menafsirkan dengan akalnya yang cekak! Fa innaa lillah wa innaa ilaihi raaji’uun.
Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A’raaf: 33).
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Allah mengurutkan keharaman-keharaman menjadi empat tingkatan. Dia memulai dengan yang paling ringan yaitu perbuatan keji, kemudian yang lebih berat keharamannya yaitu dosa dan kezhaliman, selanjutnya urutan yang ketiga yang lebih besar keharamannya dari kedua di atas yaitu kesyirikan, dan diakhiri dengan yang paling berat keharamannya dibandingkan semua di atas yaitu berbicara terhadap Allah tanpa ilmu.”
(I’lamul Muwaqqi’in, 1/47).
Firman Allah yang lain:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116).
Sebagian salaf berkata:
“Hendaklah kalian takut berkata: ‘Allah telah menghalalkan ini dan mengharamkan itu’, kemudian Allah berkata kepadamu: ‘Engkau dusta! Aku tidak pernah menghalalkan ini dan mengharamkan itu.’ Maka tidaklah pantas seseorang berkata tanpa ilmu tentang halal dan haram, atau berkata Allah telah menghalalkan dan mengharamkannya hanya didasari taqlid dan atkwil.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/47).
2. Berdusta terhadap Rasulullah
Sesungguhnya adanya kedustaan-kedustaan atas diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah pelanggaran besar terhadap beliau. Orang yang berbuat demikian sama saja menghalangi manusia dari agama yang haq. Terlebih lagi bagi orang awam yang selalu menerima apapun yang dikatakan kepada mereka, sekalipun sebenarnya bertabrakan dengan kaidah agama, tuntunan fithrah dan akal.
Berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain dengan membuat hadits palsu, berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata dan mengerjakannya. Orang yang berdusta terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diancam dengan neraka. Bedasarkan hadits-hadits berikut:
Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda:
“Janganlah kalian berbuat dusta terhadapku, sesungguhnya orang yang berdusta terhadapku hendaklah ia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 106, Muslim no. 1).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Barangsiapa yang berdusta atasku, hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (Mutawatir. HR. Bukhari no. 107, Muslim no. 3004).
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
“Berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dosa besar, sedangkan berdusta kepada selainnya termasuk dosa kecil. Maka tidaklah sama ancaman bagi yang berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau.” (Fathul Bari, 1/267).

BOHONG YANG DIBOLEHKAN
Imam Nawawi berkata:
“Ketahuilah, sesungguhnya berbohong itu sekalipun asalnya haram, akan tetapi dibolehkan pada beberapa keadaan dengan syarat-syarat tertentu.”
(al-Adzkar, hal. 325).
Di antara perkara yang dibolehkan untuk berbohong, antara lain:
1. Untuk mendamaikan di antara manusia.
Asal bolehnya hal ini, adalah apa yang diriwayatkan oleh Ummu Kultsum binti Uqbah:
Dari Ummu Kultsum, dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah termasuk pembohong orang yang mendamaikan di antara manusia, berniat baik atau berkata baik.”
(HR. Buhari no. 26920)
2. Ketika perang
Perang merupakan tipu muslihat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Perang adalah tipu muslihat.”
(HR. Bukhari no. 3030, Muslim no. 1739).
Imam Ibnul Arabi berkata:
“Bohong ketika perang adalah pengecualian yang dibolehkan berdasarkan nash, sebagai keringanan bagi kaum muslimin karena kebutuhan mereka ketika itu.” (Fathul Bari, 6/192, lihat pula ash-Shahihah, 2/86).
3. Antara suami istri
Berdasarkan hadits:
Berkata Ummu Kultsum: “Tidak pernah aku mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga perkara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidaklah aku anggap seorang itu berbohong apabila bertujuan mendamaikan di antara manusia, berkata sebuah perkataan tiada lain kecuali untuk perdamaian; orang yang bohong ketika dalam peperangan; dan suami yang berbohong kepada istrinya atau istri yang berbohong kepada suaminya.;”
(HR. Abu Dawud no. 4921, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 54).
Imam Nawawi berkata:
“Adapun bohong kepada istri, atau istri bohong kepada suami, maka yang diinginkan adalah menampakkan kasih sayang dan janji yang tidak mengikat. Adapun bohong yang tujuannya menipu dengan menahan apa yang wajib ditunaikan atau mengambil yang bukan haknya, maka hal itu diharamkan menurut kesepakatan kaum muslimin.”
(Syarah Shahih Muslim, 16/121).
Syaikh al-Albani berkata:
“Bukanlah termasuk bohong yang dibolehkan, apabila suami menjanjikan kepada istrinya yang dia sebenarnya tidak ingin menepati janji tersebut, atau suami mengabarkan kepada istrinya bahwa dia telah membeli ini dan itu lebih banyak dari kenyataannya untuk mencari ridha sang istri. Perkara semacam ini bisa terbongkar, dapat menjadi sebab cekcok serta prasangka buruk seorang istri kepada suaminya, ini termasuk kerusakan bukan perbaikan.”
(ash-Shahihah, 1/818).
Demikianlah yang dapat kami bahas pada edisi kali ini. Untuk memahami lebih luas pembahasan ini silakan lihat Syarah Shahih Muslim (16/121), al-Adzkar (hal. 324-326), keduanya karya Imam Nawawi. Akhirul kalam, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang shalih, jauh dari kedustaan dan istiqomah menapaki jalan kebenaran. Amiin. Allahu A’lam.
(Disalin dari Majalah Al-Furqan, Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/ April 2006)

Apakah tetap dikatakan berdusta jika tidak memaksudkannya?
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Marwan mengutus Abdullah bin Utbah kepada Subai’ah binti Al Harits untuk menanyakan tentang sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam fatwakan kepadanya, lalu Subai’ah menceritakan, bahwa dirinya adalah isteri dari Sa’ad bin Khaulah, kemudian dia ditinggal mati olehnya pada saat haji Wada’ dan dia termasuk orang yang ikut serta dalam perang Badar.
Kemudian dia melahirkan sebelum berlalu masa empat bulan sepuluh hari dari kematian suaminya, lalu dia bertemu dengan Abu as-Sanaabil -yaitu Ibnu Ba’kak- setelah suci dari nifasnya dan menggunakan celak.
Kemudian Abu as-Sanaabil berkata kepadanya,
“Tahanlah dirimu -atau kalimat yang serupa dengannya-, mungkin kamu menghendaki nikah, sesungguhnya masa iddahmu adalah empat bulan sepuluh hari dari kematian suamimu.”
(dalam riwayat lain Abu as-Sanaabil berkata:
“Sepertinya engkau ingin menyatakan bahwa sudah baa’ah (selesai iddah dan siap menikah), ketahuilah engkau belum boleh menikah hingga lewat satu dari dua iddah yang terlama…”)
Subai’ah lalu berkata,
“Maka aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kepada beliau apa yang telah dikatakan oleh Abu as-Sanaabil bin Ba’kak.”
(Dalam riwayat lain Rasulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ
“Abu Sanaabil telah berkata dusta…”
إِذَا أَتَاكِ أَحَدٌ تَرْضَيْنَهُ فَأْتِينِي بِهِ أَوْ قَالَ فَأَنْبِئِينِي فَأَخْبَرَهَا أَنَّ عِدَّتَهَا قَدْ انْقَضَتْ
“Jika seseorang yang engkau sukai datang melamarmu maka datanglah kepadaku atau kabarilah aku, maka Subai’ah mengabari Nabi bahwa iddahnya sudah lewat.”)
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:
قَدْ حَلَلْتِ حِينَ وَضَعْتِ حَمْلَكِ
“Kamu telah halal untuk menikah sejak kamu melahirkan kandunganmu.”
(HR. Ahmad. Dishahihkan Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 69. Asal kisah riwayat Bukhari dan Muslim)
Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah berkata:
Dusta artinya ucapan atau khabar yang berlawanan dengan kenyataan/fakta (Waqi’) sedangkan “Benar/Jujur” adalah berita atau khabar yang sesuai dengan fakta/kenyataan.
Jika ada orang yang berkata :“Orang itu telah datang hari ini”,padahal orang itu tidak datang maka ini disebut dusta, meskipun orang itu tidak sengaja mengatakannya.
[Jadi orang boleh saja disebut "telah BERDUSTA", WALAUPUN TIDAK BERMAKSUD dan TIDAK MENYENGAJA untuk BERDUSTA,pent].
Kemudian, Syaikh membawakan hadits diatas sebagai argumen dari pernyataan beliau diatas…
(Lihat Kitab Tafsir Surat al-Kahfi Syaikh al-Utsaimin; sumber salafyitb)

Rasulullah SAW dan Seorang Arab Badui

Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: 'Ya Karim! Ya Karim!' 
Rasulullah s.a.w menirunya membaca 'Ya Karim! Ya Karim!' Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan berzikir lagi: 'Ya Karim! Ya Karim!' 
Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya 'Ya Karim! Ya Karim!' 
Merasa seperti di olok-olokan, orang itu menoleh kebelakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. 
Orang itu lalu berkata: 'Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokan ku, karena aku ini adalah orang Arab badui? 
Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.' 
Mendengar bicara orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: 'Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?
''Belum,' jawab orang itu. 'Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?
''Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,' kata orang arab badui itu pula. Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!' 
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
'Tuan ini Nabi Muhammad?!''Ya,' jawab Nabi SAW 
Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki RasulullahSAW 
Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu.Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya.
Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita ancaman bagi yang mengingkarinya.' 
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam (puncak keselamatan) menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: Katakanlah kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. 
Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!'. Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. 
Orang Arab itu pula berkata: 'Demi keagungan serta kemulian ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNYA!' kata orang Arab badui itu. 'Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?' Rasulullah bertanya kepadanya. 'Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahNYA,' jawab orang itu. 'Jika DIA memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan mem perhitungkan betapa keluasan pengampunanNYA. Jika DIA memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNYA!'. Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril AS turun lagi seraya berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sungguh karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Nah katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tak akan menghisab dirinya, juga tak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!' Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya. 

Sumber :  http://sahabatnabi.0catch.com/kisah02.htm

03 April 2012

Pernikahan


Belakangan saya sering mengamati apa sih yang membuat sebuah keluarga itu retak. Kalo dipikir-pikir, keluarga itu kan ikatan yang sangat kuat. Orang-orang didalamnya dipertemukan oleh Tuhan bukan tanpa sebab, sudah ada pertimbangan menurut ukuran-Nya. Komposisinya tidak bisa digantikan oleh yang lain. Pernikahan yang menjadi awal sebuah keluarga pun selalu direalisasikan dalam perhelatan yang agung nan meriah. Akan tetapi oh akan tetapi…banyak sekali terdengar cerita perceraian atau keluarga yang ‘berantakan’ tapi belum masuk tahap perpisahan. Sangat disayangkan padahal keluarga adalah cikal bakal wajah peradaban. Baik buruknya masyarakat bisa dinilai dari profil-profil keluarga didalamnya.
Belakangan, secara kebetulan juga, kepingan demi kepingan episode hidup saya membentuk rangkaian jawaban atas kontemplasi (kalo boleh dibilang begitu) saya tersebut. Banyak hal yang menyadarkan saya dan akhirnya mengantarkan pada kesimpulan bahwa sebenarnya menjaga keharmonisan keluarga itu mudah. Wallahu’alam juga ya implementasinya karena saya sendiri belum menjalaninya dalam keluarga ‘kecil’ tapi setidaknya prinsip-prinsip tersebut bekerja pada keluarga saya yang sekarang. Intinya hanya dibutuhkan pelebaran ukuran standar kesabaran dan kesyukuran kita sampai batas kekuatan dan keyakinan kita. Seperti halnya resep serbaguna abadi seorang muslim: sabar dan syukur.

Pertama, saya menyorotinya dari pernikahan. Dalam Islam, ketika seseorang itu menikah, maka doa yang hendaknya dibacakan untuk pasangan pengantin baru adalah :

بَارَكَ اللّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرِ


Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair
yang artinya “Semoga berkah Allah dilimpahkan kepadamu, semoga berkah Allah dilimpahkan atasmu, serta menghimpun engkau berdua dalam keadaan yang baik (kebahagiaan)”, bukan “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Begitulah Rasulullah mengajarkan dan memberikan teladan pada umatnya. Doa tersebut sesungguhnya dahsyat sekali dan menjadi kunci keberhasilan keluarga. Sekedar membaca artinya mungkin biasa saja, tapi kalo tahu kaidah bahasa Arab, ada arti tersembunyi yang luar biasa. Disebutkan bahwa ada kata kepadamu dan atasmu. Keduanya diulang untuk berkah yang dilimpahkan bukan tanpa sebab.Dalam konteks Arab, kepadamu (laka) mengacu pada hal-hal yang baik sedangkan atasmu (‘alaika) mengacu pada hal-hal yang buruk. Jika kita gunakan asumsi manusia normal yang menyukai hal-hal baik dan tidak menyukai hal-hal buruk, maka arti doa tersebut adalah pengharapan agar barakah selalu ada dalam kehidupan rumah tangga, baik pada hal-hal yang kita suka maupun yang tidak kita suka. Jika barakah ini selalu menjadi tujuan dari tiap anggota keluarga, khususnya suami istri, maka mereka pasti akan berusaha mencapainya, misalnya mengusahakan perdamaian saat terjadi perselisihan atau menegur demi kebaikan. Dalam hal ini, bersabar menghadapi cobaan (berupa hal-hal yang tidak disukai) dan bersyukur dengan apa yang ada (berorientasi pada hal-hal yang disukai) akan menjaga keluarga dari keretakan.

Sumber : http://egadioniputri.wordpress.com/2010/03/22/arti-sebuah-keluarga/